Ali Mazi - Lukman Abunawas, Jadi Perbincangan Mahasiswa Sultra di Yogyakarta
Jangka waktu pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Tenggara memang masih menyisakan waktu tujuh bulan lagi, namun hiruk pikuk menyambut pesta demokrasi untuk mencari pemimpin Sultra 2018-2023 itu kini mulai ramai diperbincangkan.
Bukan hanya di Kota Kendari atau di seluruh kabupaten/kota di Sultra, nun jauh diseberang pulau di kota Yogyakarta, perantau asal Sultra baik itu mahasiswa maupun masyarakat Sultra di kota pelajar ini turut pula memperbincangkan. Berikut laporan kontributor Lensa Sultra, Dian Prayoga langsung dari Yogyakarta.
Sore itu suasana asrama Sultra yang terletak diwilayah padat penduduk Jalan Beo, Demangan Baru ramai dengan kehadiran beberapa mahasiswa. Dalam riuh obrolan mereka, kontestasi pilkada Sultra turut pula diperbincangkan. Yang paling sering diperbincangkan adalah pasangan calon Ali Mazi-Lukman Abunawas.
Pasangan berakronim AMAN ini rupanya menjadi idola hampir semua mahasiswa yang hadir sore itu. Alasannya sederhana, Ali Mazi dianggap sebagai figur pemimpin yang memiliki rekam jejak hebat dalam urusan pembangunan. Berbagai karya monumental pernah dibangun oleh Gubernur Sultra ketujuh itu. Mulai dari Bandara Haluoleo hingga tugu persatuan adalah warisan Ali Mazi.
Demikin pula Lukman Abunawas, mantan Bupati dua periode ini dianggap sebagai birokrat hebat yang mampu menjadi tandem ideal Ali Mazi dalam membangun Sultra.
Alumni Jogja Kompak Dukung AMAN
Wartawan Lensa Sultra sempat bertanya ikhwal alasan mahasiswa Jogja asal Sultra memberikan dukungan kepada pasangan AMAN. Mayoritas mahasiswa menjawab jika Ali Mazi adalah alumni Jogja sehingga ada ikatan emosional yang terbangun.
“Pak Ali Mazi kan alumni Jogja, anak-anak Pak Ali Mazi juga kuliahnya di UGM semua, sedangkan putra putri Pak Lukman juga hampir semua alumni Jogja. Jadi yah kami merasa memiliki kewajiban mendukung beliau berdua,” ujar Miftah Hanif, mahasiswa UII Yogyakarta asal Kolaka.
Lain lagi dengan alasan yang disampaikan oleh Aswin Haidar, mahasiswa Teknik Mesin UGM Yogyakarta ini merunut silsilah alumni Jogja yang sampai hari ini terus memberikan perhatian pada junior-juniornya yang masih kuliah di Jogja.
“Pak Ali Mazi itu sampai hari ini masih sering memberikan kami perhatian. Bahkan cerita senior, ketika beliau jadi Gubernur Sultra banyak beasiswa yang beliau berikan kepada mahasiswa. Bukan hanya di Jogja, tapi disemua daerah, Pak Ali Mazi rutin memberikan beasiswa,” jawab Aswin.
Jawaban yang lebih gamblang diutarakan oleh Zulkarnain, Mahasiswa asal Muna yang sedang melanjutkan studi pasca sarjana di Jogja ini mengutarakan jika mayoritas mahasiswa asal Sultra yang kini melanjutkan studi di Yogyakarta menjadikan Ali Mazi sebagai panutan bersama Habil Marati dan La Ode Songko Panatagama.
“Kami di Jogja ini kalau ditanya siapa yang diidolai, pasti jawabnya tidak jauh-jauh dari tiga senior kami beda generasi masing-masing Pak Habil Marati (angkatan 1981), Ali Mazi (1982) dan La Ode Songko Panatagama (1999). Jadi kalau salah satu dari tiga nama itu memberikan saran jelas kami semua nurut. Nah sekarang ini kan bukan hanya dikasih saran tapi Pak Ali Mazi sendiri yang maju bertarung, tentu kami punya kewajiban untuk mendukung,” jawab Zul.
Diskusi malam itu terus berlanjut. Diantara ramai suara mahasiswa yang membahas kontestasi pilgub Sultra, seorang mahasiswa berceloteh. “Insya Allah kita oppo, Rektor alumni Jogja dan Gubernur juga alumni Jogja. Simbol kecerdasan intelektuan ada pada rektor, sedangkan symbol kekuasaan ada pada jabatan gubernur,” ujar salah satu mahasiswa diaminkan oleh teman-temannya.
Sumber : Lensasultra.com
Jangka waktu pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Tenggara memang masih menyisakan waktu tujuh bulan lagi, namun hiruk pikuk menyambut pesta demokrasi untuk mencari pemimpin Sultra 2018-2023 itu kini mulai ramai diperbincangkan.
Bukan hanya di Kota Kendari atau di seluruh kabupaten/kota di Sultra, nun jauh diseberang pulau di kota Yogyakarta, perantau asal Sultra baik itu mahasiswa maupun masyarakat Sultra di kota pelajar ini turut pula memperbincangkan. Berikut laporan kontributor Lensa Sultra, Dian Prayoga langsung dari Yogyakarta.
Sore itu suasana asrama Sultra yang terletak diwilayah padat penduduk Jalan Beo, Demangan Baru ramai dengan kehadiran beberapa mahasiswa. Dalam riuh obrolan mereka, kontestasi pilkada Sultra turut pula diperbincangkan. Yang paling sering diperbincangkan adalah pasangan calon Ali Mazi-Lukman Abunawas.
Pasangan berakronim AMAN ini rupanya menjadi idola hampir semua mahasiswa yang hadir sore itu. Alasannya sederhana, Ali Mazi dianggap sebagai figur pemimpin yang memiliki rekam jejak hebat dalam urusan pembangunan. Berbagai karya monumental pernah dibangun oleh Gubernur Sultra ketujuh itu. Mulai dari Bandara Haluoleo hingga tugu persatuan adalah warisan Ali Mazi.
Demikin pula Lukman Abunawas, mantan Bupati dua periode ini dianggap sebagai birokrat hebat yang mampu menjadi tandem ideal Ali Mazi dalam membangun Sultra.
Alumni Jogja Kompak Dukung AMAN
Wartawan Lensa Sultra sempat bertanya ikhwal alasan mahasiswa Jogja asal Sultra memberikan dukungan kepada pasangan AMAN. Mayoritas mahasiswa menjawab jika Ali Mazi adalah alumni Jogja sehingga ada ikatan emosional yang terbangun.
“Pak Ali Mazi kan alumni Jogja, anak-anak Pak Ali Mazi juga kuliahnya di UGM semua, sedangkan putra putri Pak Lukman juga hampir semua alumni Jogja. Jadi yah kami merasa memiliki kewajiban mendukung beliau berdua,” ujar Miftah Hanif, mahasiswa UII Yogyakarta asal Kolaka.
Lain lagi dengan alasan yang disampaikan oleh Aswin Haidar, mahasiswa Teknik Mesin UGM Yogyakarta ini merunut silsilah alumni Jogja yang sampai hari ini terus memberikan perhatian pada junior-juniornya yang masih kuliah di Jogja.
“Pak Ali Mazi itu sampai hari ini masih sering memberikan kami perhatian. Bahkan cerita senior, ketika beliau jadi Gubernur Sultra banyak beasiswa yang beliau berikan kepada mahasiswa. Bukan hanya di Jogja, tapi disemua daerah, Pak Ali Mazi rutin memberikan beasiswa,” jawab Aswin.
Jawaban yang lebih gamblang diutarakan oleh Zulkarnain, Mahasiswa asal Muna yang sedang melanjutkan studi pasca sarjana di Jogja ini mengutarakan jika mayoritas mahasiswa asal Sultra yang kini melanjutkan studi di Yogyakarta menjadikan Ali Mazi sebagai panutan bersama Habil Marati dan La Ode Songko Panatagama.
“Kami di Jogja ini kalau ditanya siapa yang diidolai, pasti jawabnya tidak jauh-jauh dari tiga senior kami beda generasi masing-masing Pak Habil Marati (angkatan 1981), Ali Mazi (1982) dan La Ode Songko Panatagama (1999). Jadi kalau salah satu dari tiga nama itu memberikan saran jelas kami semua nurut. Nah sekarang ini kan bukan hanya dikasih saran tapi Pak Ali Mazi sendiri yang maju bertarung, tentu kami punya kewajiban untuk mendukung,” jawab Zul.
Diskusi malam itu terus berlanjut. Diantara ramai suara mahasiswa yang membahas kontestasi pilgub Sultra, seorang mahasiswa berceloteh. “Insya Allah kita oppo, Rektor alumni Jogja dan Gubernur juga alumni Jogja. Simbol kecerdasan intelektuan ada pada rektor, sedangkan symbol kekuasaan ada pada jabatan gubernur,” ujar salah satu mahasiswa diaminkan oleh teman-temannya.
Sumber : Lensasultra.com

COMMENTS