Jakarta - Dalam kamus politik, istilah calon legislator cabe-cabean memang tak dikenal. Namun pada praktiknya sebutan itu lazim digunakan di kalangan tim sukses sebuah partai politik. Konotasi kata ini dipakai untuk membedakan niat seorang caleg; murni mencalonkan atau sekadar pemanis.
Novriantoni Kahar, dosen Universitas Paramadina Jakarta menyebut dua kriteria caleg itu sebenarnya sudah ada sejak pemilihan umum 2009 lalu. Namun kemudian caleg yang dipasang hanya sebagai pemanis atau penggembira diplesetkan dengan sebutan caleg cabe-cabean.
Pria yang akrab disapa Novri ini mengatakan, caleg cabe-cabean banyak menjadi rebutan sejumlah partai politik. Tak jarang caleg ini, karena memang berwajah rupawan dipasang di nomor urut satu untuk mengdongkrak perolehan suara partai.
Partai pun 'mati-matian' memoles citra sang caleg. Mulai dari blusukan dadakan hingga spanduk dan aneka atribut kampanye, yang tentunya didesain sedemikian rupa agar si caleg menarik perhatian.
Tak hanya perempuan, caleg cabe-cabean juga disematkan pada politisi pria yang tidak jelas kompetensinya namun dicalonkan. “Mereka (caleg cabe-cabean) diperebutkan di kalangan partai. Jadi, tim pesorak. Pasang foto, atribut, ketika di wawancara di TV jadi banyolan. Modal tampang aja,” kata Novri.
Salah seorang konsultan komunikasi politik Ipang Wahid mengaku belum pernah mendengar istilah caleg cabe-cabean di kalangan tim sukses partai. Direktur Eksekutif Fastcomm ini menduga munculnya istilah itu sebagai upaya menghubungkan caleg perempuan yang dianggap tidak kompeten, khususnya caleg dari kalangan artis
Novriantoni Kahar, dosen Universitas Paramadina Jakarta menyebut dua kriteria caleg itu sebenarnya sudah ada sejak pemilihan umum 2009 lalu. Namun kemudian caleg yang dipasang hanya sebagai pemanis atau penggembira diplesetkan dengan sebutan caleg cabe-cabean.
Pria yang akrab disapa Novri ini mengatakan, caleg cabe-cabean banyak menjadi rebutan sejumlah partai politik. Tak jarang caleg ini, karena memang berwajah rupawan dipasang di nomor urut satu untuk mengdongkrak perolehan suara partai.
Partai pun 'mati-matian' memoles citra sang caleg. Mulai dari blusukan dadakan hingga spanduk dan aneka atribut kampanye, yang tentunya didesain sedemikian rupa agar si caleg menarik perhatian.
Tak hanya perempuan, caleg cabe-cabean juga disematkan pada politisi pria yang tidak jelas kompetensinya namun dicalonkan. “Mereka (caleg cabe-cabean) diperebutkan di kalangan partai. Jadi, tim pesorak. Pasang foto, atribut, ketika di wawancara di TV jadi banyolan. Modal tampang aja,” kata Novri.
Salah seorang konsultan komunikasi politik Ipang Wahid mengaku belum pernah mendengar istilah caleg cabe-cabean di kalangan tim sukses partai. Direktur Eksekutif Fastcomm ini menduga munculnya istilah itu sebagai upaya menghubungkan caleg perempuan yang dianggap tidak kompeten, khususnya caleg dari kalangan artis

COMMENTS